WELCOME TO RYU_NICKO BLOGS

Sabtu, 23 Agustus 2014

Captain America 2: The Winter Soldier Subtitle Indonesia


Information
Type: Movie
Release: 4 April, 2014
Director: Anthony Russo, Joe Russo
Genres : Action | Adventure | Sci Fi
Credit: Cinemaindo
Format : MP4 H.264 / MP4 HD Size : 187 MB Subtitle : Indonesia
Encoder & Uploader: Fauzi-kun
Post: Ryuuk


So what went wrong with Captain America: The First Avenger (2011)? Well… terlepas dari pemilihan Chris Evans yang benar-benar memiliki penampilan, kharisma dan kemampuan yang tepat untuk memerankan sang karakter utama, Captain America: The First Avenger tidak pernah benar-benar terasa sebagai sebuah film yang diperuntukkan kepada Captain America secara keseluruhan. Dengan penggalian karakter utama yang cukup terbatas serta paruh penceritaan lanjutan yang kemudian menghadirkan beberapa karakter ciptaan Marvel Comics yang telah terlebih dahulu meraih popularitasnya, Captain America: The First Avenger lebih kental terasa sebagai media publikasi untuk mengenalkan karakter Captain America kepada penonton dalam skala luas sebelum karakter tersebut akhirnya diikutsertakan dalam The Avengers (2012) – yang sekaligus menjadikan Captain America: The First Avenger terasa seperti promosi berdurasi 125 menit bagi The Avengers.  Bukan sebuah presentasi yang benar-benar buruk namun kurang mampu untuk memberikan kesan esensial sebagai pemicu hadirnya sebuah franchise superhero yang baru. Kelemahan di bagian penulisan naskah itulah yang sepertinya menjadi fokus pembenahan utama dalam seri kedua pengisahan Captain America, Captain America: The Winter Soldier. Kali ini, duo penulis naskah Christopher Markus dan Stephen McFeely mencoba untuk memberikan sentuhan penceritaan yang lebih mendalam dan kuat, baik kepada kehidupan personal sang karakter utama, orang-orang yang berada di sekitarnya maupun berbagai konflik yang terjalin dalam interaksi mereka satu sama lain. And it works!  Layaknya film-film yang didedikasikan untuk karakter superhero Marvel Comics lainnya, Captain America: The Winter Soldier akhirnya mampu menjelma menjadi sebuah film bagi Captain America secara seutuhnya. Namun apakah hal tersebut sekaligus berhasil menjadikan Captain America: The Winter Soldier sebagai salah satu film terbaik dalam Marvel Cinematic Universe? Let’s see.  Berlatar belakang masa penceritaan dua tahun semenjak berbagai konflik yang terjadi dalam The Avengers, Steve Rogers (Chris Evans) kini melanjutkan kehidupannya di Washington D.C., Amerika Serikat dengan melanjutkan tugasnya sebagai Captain America bersama agen spionase S.H.I.E.L.D. sekaligus terus berusaha untuk mengikuti perkembangan dunia yang telah ditinggalkannya ketika tubuhnya dibekukan selama beberapa puluh tahun.  Suatu hari, setelah ia terlibat dalam sebuah operasi untuk membantu S.H.I.E.L.D. dalam membebaskan kapal laut mereka dari serangan bajak laut Algeria yang dipimpin oleh Georges Batroc (Georges St-Pierre) bersama dengan agen rahasia Natasha Romanoff (Scarlett Johansson), Steve mulai mempertanyakan sikap kepemimpinan Nick Fury (Samuel L. Jackson) ketika mengetahui bahwa Nick menyimpan rahasia dari dirinya mengenai misi sebenarnya dari keberadaan agen Natasha Romanoff dalam operasi tersebut.  Keraguan Steve terhadap dirinya itulah yang membuat Nick kemudian mengenalkan sebuah misi rahasia milik S.H.I.E.L.D. bernama Operation:Insight kepada Steve. Tidak lama sesudahnya, Nick justru kemudian kehilangan aksesnya pada Operation:Insight dan mengalami penyerangan bertubi-tubi dari seorang pembunuh misterius yang dikenal dengan sebutan The Winter Soldier. Beruntung, Nick dapat menyelamatkan diri dari serangan tersebut. Dalam keadaan terluka, Nick menemui Steve di apartemennya dan menyerahkan sebuah flash drive sekaligus mengingatkan Steve untuk tidak mempercayai orang-orang yang berada di sekitarnya.  Sialnya, begitu mengetahui bahwa ia adalah orang terakhir yang ditemui oleh Nick, pimpinan senior S.H.I.E.L.D., Alexander Pierce (Robert Redford), justru menjadikan Steve sebagai seorang buronan setelah ia menolak untuk memberi informasi mengenai apa tujuan Nick ketika datang ke apartemennya. Diburu oleh orang-orang yang selama ini ia percayai, Steve Rogers kini harus terus berlari untuk menyelamatkan diri sekaligus mencari tahu mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam S.H.I.E.L.D. serta orang-orang yang terlibat didalamnya.  Christopher Markus dan Stephen McFeely harus diakui berhasil untuk meningkatkan kualitas penulisan penceritaan Captain America: The Winter Soldier dengan memberikan deretan intrik dan konflik yang lebih kuat sekaligus karakter-karakter yang lebih mampu dimanfaatkan keberadaannya untuk menjadikan gerakan cerita film menjadi lebih dinamis.  Namun, di saat yang bersamaan, kekuatan penceritaan tersebut kurang mampu dieksekusi dengan baik oleh duo Anthony Russo dan Joe Russo (You, Me and Dupree, 2006) yang duduk di kursi penyutradaan menggantikan posisi Joe Johnston. Duo Russo serasa tidak pernah benar-benar mampu untuk mengeksplorasi jalan cerita yang ia tangani dengan sempurna. Terlalu lamban dalam mengalurkan sisi penceritaan drama film dan di saat yang bersamaan juga terasa tidak mampu untuk menghasilkan sajian aksi yang kuat di saat jalan cerita membutuhkan elemen tersebut. Hasilnya, meskipun telah didukung dengan jalan penceritaan yang lebih padat berisi, eksekusi lemah duo Russo gagal untuk memberikan kepuasan secara utuh dalam deretan tahapan penceritaan Captain America: The Winter Soldier.  Chris Evans sendiri masih tampil sangat prima sebagai Steve Rogers atau Captain America. Daya tarik keseluruhan yang dimiliki oleh Evans mungkin telah hampir menyamai dengan kharisma yang dimiliki oleh Robert Downey, Jr. dalam memerankan Tony Stark alias Iron Man: telah cukup sulit untuk membayangkan kedua karakter tersebut jika diperankan oleh aktor yang berbeda. Pemberian porsi penceritaan yang lebih besar pada karakter Natasha Romanoff juga mampu dibarengi dengan chemistry yang begitu erat antara Evans dan Scarlett Johansson.  Meskipun sama sekali tidak pernah diberikan porsi penceritaan yang mengarah kepada terbentuknya jalinan kisah romansa antara kedua karakter yang mereka perankan namun Evans dan Johansson berhasil membentuk jalinan chemistry (secara seksual?) yang akan mampu membuat para penonton bahwa kedua karakter mereka mampu hadir dengan porsi penceritaan yang lebih dari sekedar jalinan persahabatan. Begitulah jalinan keeratan chemistry yang berhasil dijalin Evans dan Johansson dalam film ini.  Para pemeran pendukung lain juga mampu memberikan kontribusi akting yang sangat meyakinkan bagi Captain America: The Winter Soldier. Samuel L. Jackson mampu tampil prima dengan perannya sebagai Nick Fury yang juga mendapatkan porsi peran lebih besar di film ini. Kehadiran kembali karakter Bucky Barnes yang diperankan oleh Sebastian Stan juga mampu tampil mencuri perhatian – meskipun dengan porsi penceritaan yang harus diakui kurang memuaskan.  Sayangnya, hal yang sama juga terjadi pada Robert Redford, Anthony Mackie dan Emily VanCamp. Karakter-karakter yang mereka perankan terasa memiliki peran yang cukup vital dalam jalinan penceritaan Captain America: The Winter Soldier. Namun, eksplorasi karakter yang begitu terbatas membuat karakter-karakter tersebut justru akhirnya terasa kurang esensial. Captain America: The Winter Soldier juga hadir dengan kualitas produksi yang berkelas – meskipun entah kenapa tidak pernah benar-benar terasa istimewa jika dibandingkan dengan film-film produksi Marvel Studios lainnya. Mungkin jika Captain America: The Winter Soldier mampu mendapatkan pengarahan yang lebih kuat lagi maka film ini akan berhasil tampil lebih mengesankan.  Bukan berarti bahwa film ini hadir dengan kualitas yang seadanya atau bahkan mengecewakan. Namun hasil penulisan naskah Christopher Markus dan Stephen McFeely yang mampu menyelipkan berbagai intrik lebih menegangkan jika dibandingkan dengan seri sebelumnya gagal dieksekusi dengan lebih layak oleh duo sutradara Anthony dan Joe Russo. Karenanya, meskipun didukung dengan kualitas naskah yang membaik, penampilan jajaran pengisi departemen akting yang begitu apik serta kualitas produksi yang cukup cemerlang, Captain America: The Winter Soldier masih saja kurang mampu menggenggam perhatian para penontonnya dengan seutuhnya pada banyak bagian ceritanya. Peningkatan dari seri sebelumnya namun jelas masih memiliki beberapa ruang narasi yang perlu mendapatkan perbaikan.

LINK DOWNLOAD
[RD] / [SF] / [TF] / [MC]
 Thanks To Shinokun




Danshi Koukousei no Nichijou Live Action (Sub Indonesia)



Type: Live Action
Durasi: 1 hr . 25 min
Genre: Teen, Comedy, School, Based on a Comic
Rating: 95 ( http://asianwiki.com/Daily_Lives_of_High_School_Boys )
Subtitle: Indonesia
Credit:Excaliburfansub
Convert& Upload: Fauzi-kun
Post: Eam

Tadakuni, Hidenori, dan Yoshitake adalah siswa di akademi laki-laki, SMA Sanada Utara . Ini adalah kisah tentang kehidupan sehari-hari sebagai siswa SMA. Memenangkan turnamen basket? Menemukan cinta sejati? Anda tidak akan menemukan semua itu di sini.

LINK DOWNLOAD
[MC] / [RD] / [SF] / [SS] / [TF] / [UP]

 Thanks To Shinokun


Jumat, 22 Agustus 2014

The Amazing Spiderman 2 Subtitle Indonesia


Information
Type: Movie
Release: 2 May, 2014
Director: Marc Webb
Genres : Action | Adventure | Fantasy Credit: Cinemaindo
Format : MP4 H.264 / MP4 HD Size : 197 MB Subtitle : Indonesia
Encoder & Uploader: Fauzi-kun
Post: ryuuk

Di edisi pertama reboot miliknya dua tahun lalu itu superhero jenius dengan gerak cepat dan refleks yang memikat ini berhasil membuktikan bahwa ia tidak menjadi sesuatu yang totally useless ketika kembali beraksi bersama tubuh dibalut latex ketat itu hanya lima tahun setelah ia melakukan aksi terakhirnya. Sukses menampar sikap pesimis, beban yang sedikit berkurang, edisi kedua ini berhasil tampil lepas untuk menawarkan kembali cerita familiar itu dalam sebuah petualangan yang menyenangkan masih dengan aksi terbang dan melayang di antara gedung pencakar langit kota New York. The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro, when music and action sequence kill a bit draggy story minus. I'll simply say it's on again, it's on again.  Cute couple itu harus meninggalkan sekolah tempat mereka bertemu yang ditandai dengan acara upacara wisuda kelulusan, momen dimana Gwen Stacy (Emma Stone) menyampaikan pidatonya sementara disisi lain Peter Parker (Andrew Garfield) masih harus menyelamatkan kota New York dari aksi brutal seorang Russian Mobster bernama Aleksei Sytsevich (Paul Giamatti).  Semua memang berakhir indah, namun dari sana pula awal dari kemunculan bayangan yang selalu mencoba mengingatkan Peter pada janjinya untuk menjauh dari Gwen, menyebabkan kisah manis yang mereka punya berubah menjadi rumit. Paska peristiwa tersebut Peter memutuskan untuk kembali menuntaskan hasrat miliknya dengan mencari tahu keberadaan ayahnya (Campbell Scott).  Hal tersebut ternyata menyimpan sebuah fakta yang membawa Peter menuju Oscorp, perusahaan atau kerajaan bisnis yang memiliki pemimpin baru setelah ditinggal Norman Osborn (Chris Cooper) dan kini dikendalikan oleh Harry Osborn (Dane DeHaan), sahabat karib Peter yang masih bergelut dengan masalah pribadi, yang celakanya tidak tahu telah hadir monster baru yang berasal dari perusahaannya, seorang pekerja listrik bernama Max Dillon (Jamie Foxx) yang hanya ingin keluar dari kesepian dan memperoleh perhatian.  Menilik sinopsis diatas tadi akan hadir kesan ambigu pada misi utama yang ingin dicapai oleh The Amazing Spider-Man 2, banyak masalah yang potensial untuk dikembangkan namun faktanya mayoritas dari mereka tidak memperoleh sentuhan yang cukup dalam pada tahap eksekusi. Yap, timbunan konflik yang gemuk itu pada akhirnya memang akan terkesan dipaksa untuk mampu menyelip masuk kedalam alur cerita dengan berbagai isu, dari menciptakan ruang cerita untuk arena kreatifitas adegan aksi lewat Max Dillon, future plan yang tidak bisa dibuang pada sosok Harry, hingga pemanis tambahan pada Aleksei.  Berantakan, sedikit tidak konsisten, tapi masalahnya adalah Marc Webb tetap berhasil membentuk ini menjadi sajian berantakan yang menghibur. Aneh memang karena dibalik segala kekacauan yang mayoritas masih di isi dengan hal lama pada elemen script sulit pula untuk tidak mengakui bahwa The Amazing Spider-Man 2 mampu memberikan unsur fun yang terasa pas selama 142 menit durasi yang ia punya.  Cerita hasil kerja sama Alex Kurtzman, Roberto Orci, dan Jeff Pinkner yang terkesan pemalas dan sedikit terburu-buru dalam gerak berat yang ia hadirkan itu seperti membentuk sebuah rollercoaster, terkadang bermain dengan drama mengandalkan emosi yang coba menelusuri hubungan multi arah antar karakter dengan Peter sebagai sentralnya meskipun cenderung lebih sering berakhir terlalu stabil, dan ketika penonton mulai merasa tenang dan nyaman Marc Webb kemudian menghantam mereka dengan adegan aksi penuh koreografi dan akrobatik dinamis dalam gerak cepat yang presisi dan rapi hasil sentuhan “palsu” yang memikat dari departemen visual efek bersama kualitas 3D yang mumpuni. Hal tersebut yang kerap kali menjadi sumber hadirnya senyuman sembari terus bertanya apa sih sebenarnya maunya film ini.  The Amazing Spider-Man 2 seperti dikemas tanpa eksistensi dinding yang membatasi diri seorang Spider-Man sebagai seorang superhero yang hanya bertugas menyelamatkan penduduk dari bahaya. Memang tidak selevel dengan Spider-Man 2 versi Sam Raimi, tapi tragedi serta kisah romansa itu berhasil ditampilkan oleh Marc Webb yang uniknya ia kemas dengan terus menekankan kesan freestyle didalam penceritaan, bergerak bebas namun punya point-point utama yang berhasil muncul di dalam cerita dan tergambarkan dengan baik, walaupun disamping itu sayangnya mereka hanya sebatas ada karena Marc Webb cenderung lebih asyik bermain-main dengan banyak hal yang punya kapasitas minor.  Ya, The Amazing Spider-Man 2 adalah presentasi yang warna-warni, dan ini kacau sebetulnya, tapi disamping itu keputusan tersebut seolah telah di prediksi oleh mereka. Seperti sebuah perjudian, gambling, mari mencoba tampil sedikit lebih segar dan siap menerima resiko terburuknya, dan hasilnya tidak buruk serta cukup berimbang.  Cerita yang sedikit melelahkan, humor konyol yang cenderung mengandalkan slapstick klasik namun bekerja dengan baik, kurangnya tekanan dan ancaman dari sosok antagonis karena dibentuk dengan tipis tanpa motivasi yang kuat, hingga observasi pada dilema dengan menggunakan kekuasaan, tanggung jawab, resiko, hingga asmara yang juga tampil baik, ada sebuah pertarungan plus dan minus yang menarik dan menghasilkan dinamika cerita yang variatif untuk menyelamatkan ini dari situasi membosankan.  Tapi ada satu hal lainnya yang berhasil menjawab kepercayaan Marc Webb sejak awal disamping aksi balet di medan perang dimana Webb seperti paham kapan momen yang tepat untuk mempermainkan visual untuk menciptakan gambar yang impresif, serta score electronic hasil kolaborasi Hans Zimmer dan Pharrell Williams yang secara mengejutkan tampil kokoh dan mempertajam kesan segar dan kerap mengendalikan tensi serta tempo cerita.  Kisah cinta antara Peter dan Gwen, mereka mengalahkan kepentingan para penjahat dalam cerita untuk memperoleh posisi utama, dan itu terbayarkan lewat eksekusi mumpuni pada sebuah kejutan menjelang akhir. Tidak heran memang ketika kita akan memperoleh kisah cinta yang menjadi bagian dari fokus yang terpecah belah itu dalam bentuk yang impresif, karena Andrew Garfield dan Emma Stone mampu melakukan transfer pada kekuatan cinta yang mereka punya di kehidupan nyata kedalam layar tanpa terkesan berlebihan.  Chemistry tidak megah, namun kuat dan punya ketulusan yang terasa alami sehingga mampu membuat penontonnya tetap rooting kepada mereka ketika kisah cinta itu tergambarkan dalam penceritaan yang kurang bergelora. Andrew Garfield semakin mampu membuat penontonnya yakin bahwa ia Spider-Man yang baru, ia punya kelembutan yang tampil meyakinkan di kala suka dan duka. Emma Stone sendiri sedikit terbatasi ruang geraknya namun mampu membangun karakternya dengan efektif dan tajam.  Pemeran pendukung yang sejak awal sebenarnya turut berkontribusi pada sedikit meningkatnya ekspektasi justru harus puas menjadi bayangan. Mereka tidak punya ruang yang cukup, oke untuk Sally Field yang memang hanya punya satu bagian penting pada cerita, namun tidak dengan Jamie Foxx dan Dane DeHaan. Karakter Green Goblin memang baru sebatas perkenalan, namun ia dapat memberikan bahaya yang jauh lebih kuat. Dan Jamie Foxx seperti terbuang percuma, Electro tampil unthreatening bersama tujuan yang tidak fokus, untung saja Foxx masih mampu menciptakan pondasi yang jelas ketika karakternya masih berada dalam kondisi sederhana terkait ulang tahun dan atensi itu. Paul Giamatti mampu mencuri atensi sesaat, and I really hope Black Cat can be a part in next film to make a bigger room to Felicity Jones.  Overall, The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro adalah film yang cukup memuaskan. Anda dapat menyebutnya sebagai sebuah kemasan berani yang inovatif, sebuah petualangan tidak fokus tanpa motivasi yang kuat, sebuah kisah superhero dengan kedalaman penceritaan yang sedikit berantakan dan juga canggung, sebuah pertunjukkan adrenaline pumping sembari bermain bersama dilema yang digambarkan dengan mumpuni, sebuah video game dalam balutan dramatisasi yang terlalu stabil, hingga sebuah roman manis dan tidak berlebihan yang seolah tidak peduli dengan eksistensi bahaya disekitar mereka. For me, The Amazing Spider-Man 2 is a bold guilty pleasure. It’s an enjoyable stupid fun. I'll simply say it's on again, it's on again.

LINK DOWNLOAD

The Amazing Spiderman 2
[RD] / [SF] / [TF] / [MC]

Thanks To shinokun


Kimi ni Todoke Live Action Subtitle Indonesia

Information
Judul: Kimi ni Todoke Live Action
Genres: School, Romance, Comedy, Drama
Directed: Kehiko shinjo
Release: 1 March 2010
Country : Japan
Credit: Animeindo
Format : MP4 H.264 / MP4 HD
Size : 188 MB
Subtitle : Indonesia
Encoder & Uploader: Fauzi-kun
Post: ryuuk

Cewek remaja yang bernama Kuronuma Sawako, karena di mempunyai rambut yang panjang hitam serta memiliki muka yang menyeramkan, dia jadi sering sekali dipanggil dengan julukan "Sadako" oleh banyak teman-temannya, seperti hantu yang muncul dalam film The Ring (Film horror Jepang). Kebanyakan orang-orang ketakutan dengannya, mereka menganggap bahwa Sawako memiliki sebuah kekuatan yang mistis & bisa mengutuk orang!!Akan tetapi, semuanya berubah ketika Kazehaya Shota, cowok paling populer di sekolah ketika menyapanya. Secara diam-diam Kazehaya selalu memperhatikannya. Dan Sawako pun tidak tau bahwa sebenarnya Kazehaya sudah lama menyukai dirinya.

LINK DOWNLOAD
[RD] / [SB] / [SF] / [TF] / [UP] / [MC]

Thanks to Shinokun

Hunter x Hunter The Last Mission Subtitle Indonesia

Alternative Titles
English: Hunter x Hunter
Synonyms: HxH
Japanese: 劇場版 HUNTERxHUNTER THE LAST MISSION

Information
Type: Movie
Episodes: 1
Status: Finished Airing
Aired: Dec 27, 2013
Producers: Madhouse
Genres: Action, Adventure, Shounen, Super Power
Duration: 1 hr. 38 min.
Rating: R - 17+ (violence & profanity) L represents licensing company
More Info: My Animelist
Credit:shinokun
Encoder & Upload: Fauzi-kun
Post: ryuuk

Puluhan tahun lalu, Ketua Asosiasi Hunter Isaac Netero menyegel Jed, pria yang mewakili “Bayangan” dari asosiasi yang menggunakan kekuatan “On.” “On”, adalah sisi koin lain dari Nen, kekuatannya berasal dari dendam murni pengguna dengan menggunakan nyawa mereka sebagai bayarannya. Saat dia berpikir sudah menyegel Jed dan “On”, sebuah tim pengguna On muncul di Menara Tenku Turnamen Battle Olympia. Gon dan Killua, yang datang untuk menyemangati Zushi, bersama dengan Kurapika, yang datang ke turnamen untuk melindungi bosnya Neon, dipaksa untuk menemukan sumber penyerangan menara dan mengalahkannya. Tapi, semuanya tidaklah mudah, karena musuh mereka menggunakan kekuatan dendam sesuka mereka demi kematian semua Hunter.




link download : [SF] / [TF] / [UP] / [MC]
 Thanks to Shinokun
 



Captain America: The First Avenger (2011) Bluray (Sub Indonesia)

Captain America: The First Avenger (2011) Bluray 
Sutradara: Joe Johnston
 
Pemain: Chris Evans, Hugo Weaving, Samuel L. Jackson
 
Rating IMDB: 6.8
 
Kualitas Video: Bluray

Genre: Action Adventure Sci-Fi
Credit: shinokun
Convert & Upload: WendiShino
Post: ryuuk


Secara fisik, Steve Rogers (Chris Evans) memang tak memadai untuk menjadi seorang tentara. Karena itu pula ia gagal. Pantang menyerah, Steve kemudian mendaftarkan diri menjadi bagian dari eksperimen militer yang dikenal dengan nama Project: Rebirth. Tujuan dari program ini adalah menciptakan prajurit super yang akan diturunkan ke medan laga. Dengan teknologi yang dimiliki, pihak militer AS kemudian mengubah Steve Rogers menjadi prajurit super bernama Captain America. Sayangnya, pemerintah kemudian menganggap eksperimen ini sudah menghabiskan biaya terlalu tinggi dan karena itu tak rela kalau Captain America turun ke medan peperangan. Sebagai gantinya, Captain America lantas dijadikan maskot untuk meningkatkan semangat juang para prajurit. Tak lama kemudian tersiar kabar kalau seorang anggota Nazi bernama Red Skull (Hugo Weaving) ternyata punya rencana jahat untuk menguasai dunia dengan menggunakan benda berkekuatan magis yang dikenal dengan nama Tesseract. Steve Rogers terpaksa turun tangan untuk memburu Red Skull dan menjadi orang pertama yang bergabung sebagai The Avengers."

download : RD / TF

Kamis, 21 Agustus 2014

Need For Speed mp4 sub indo (bluray)




Release: 14 March 2014
Quality: Bluray
Genre: Action, Crime, Drama, Thriller
Country: USA, Philippines, Ireland, UK.
Starcast: Aaron Paul, Dominic Cooper, Imogen Poots.
Rating Imdb: 7.2/10
Credit: shinokun
Convert & Upload: WendiShino
Post: nicko

Download : RD